Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan

Sekar dan Raja Ongkaya @ ANANTHATOYS

Sekar dan Raja Ongkaya
Raja Ongkaya adalah seorang raja yang bijaksana. Ia merasa bahagia dan bangga. Sejak dia menjadi raja menggantikan ayahnya, kehidupan rakyatnya tampak semakin makmur. Setiap musim panen tiba, rakyat berlomba-lomba mempersembahkan hasil panen kepada raja.
Raja tak pernah melihat wajah rakyatnya yang bersedih. Semua kelihatan penuh suka cita. Bahkan dalam setiap perayaan ulang tahun kerajaan, mereka memamerkan berbagai mcam hasil pertanian dan perkebunan di hadapan raja.
“Aku bangga, rakyatku hidup makmur,” kata Raja Ongkoya kepada perdana menterinya.
Pada suatu hari, raja menyamar menjadi rakyat biasa. Di sebuah desa, ia melihat seorang anak perempuan sedang menimba air dengan susah payah. Ketika melihat raja lewat, anak itu berteriak memanggilnya.

“Oh, Tuan! Tolonglah saya! Ember ini terlalu berat,” teriak anak itu.
Bergegas raja menghampiri anak itu dan membantunya menimba air.
“Pekerjaan ini berbahaya untukmu,” tegur raja sambil mengambil tali ember itu dari tangan anak itu.
“Apakah di rumahmu tidak ada orang dewasa?” tanya raja sambil menuangkan air dalam ember ke dalam bak air.
“Semua orang dewasa di kampung kami pergi ke sawah dan ladang. Aku tinggal sendirian di rumah,” kata anak itu, sambil melihat ke bak air yang belum terisi penuh.
“Tuan, tolong isi bak air itu sampai penuh, ya. Aku perlu air untuk mencuci dan menyiram tanaman,” pinta anak itu.
“Oh ya, baiklah,” sahut raja sambil tersenyum.
“Penduduk di kampung kami harus bekerja keras setiap hari,” kata anak itu dengan suara lantang. “Tapi hasil sawah kami bukan untuk dimakan oleh kami sendiri. Semua dipersembahkan kepada raja dan para pejabat kerajaan.”
“Oh, ya?” raja melirik anak itu sekilas, lalu menimba air lagi.
“Ya!” sahut anak itu. “Raja mengira kehidupan rakyatnya sudah makmur dan sejahtera. Padahal rakyat hanya ingin menyenangkan hati raja.”
“Apa maksudmu?” tanya raja sambil terus mengisi bak air sampai penuh. “Hasil-hasil panen beras kami yang terbagus dikirim ke istana untuk raja. Kami terpaksa memakan sisanya. Kadang kami hanya makan singkong dan ubi sebagai gantinya. Raja tidak tahu, kalau hasil panen kami tidak selalu bagus. Tetapi kami harus tetap mengirim untuk raja juga.”
“Kenapa bisa sampai terjadi demikian?” tanya raja. Wajahnya memerah mendengar kata-kata anak itu.
“Raja kami terkenal baik dan bijaksana. Namun kebaikan raja malah membuat rakyat merasa malu. Semua berusaha menyenangkan hati raja. Begitu pula dengan kedua orang tuaku. Hasil pertanian kami tidak seberapa. Namun kami selalu memilih yang terbaik untuk dipersembahkan kepada raja.”
Setelah bak terisi penuh, raja duduk di sebelah anak perempuan itu.
“Siapakah namamu?” tanya raja.
“Sekar,” sahut gadis itu.
Setelah selesai menimba air, raja pun duduk di teras rumah bersama dengan Sekar. Sekar pun langsung masuk ke dalam rumah dan tidak lama kemudian, ia menyuguhkan secangkir teh hangat dan sepiring singkong rebus, serta beberapa buah gula merah.
“Oh, kau gadis kecil yang baik hati,” ujar raja terharu.
Raja lalu mengambil sepotong singkong dan gula merah lalu memakannya. “Singkong dan gula merah ini enak seklai!” kata raja tulus.
Keesokan harinya, raja mengumumkan bahwa mulai saat itu juga semua rakyat tidak boleh lagi memberikan atau mengirim apapun ke istana. Apapun hasil yang diperoleh rakyat, harus digunakan untuk kepentingan sendiri-sendiri. Rakyat menyambut keputusan raja dengan senang hati.
Seminggu berlalu. Sekar sedang duduk sendirian di teras rumahnya, ketika tiba-tiba pengawal istana datang.
“Apakah kau yang bernama Sekar?” tanya salah seorang pengawal tersebut.
“Ya,” sahut Sekar.
“Kami mengantarkan hadiah dari raja untukmu,” kata pengawal itu.
Mereka lalu memasukkan semua hadiah pemberian raja ke dalam rumah Sekar. Hadaihnya bermacam-macam. Sekar pun merasa sangat gembira.
“Tapi mengapa Raja memberikan semua hadiah ini untukku?” tanya Sekar heran. Kedua utusan istana itu hanya tersenyum.

Tamat

Read More......

Putri Bunga @ ANANTHATOYS

Putri Bunga
Oleh Aldian/7b

Zaman dahulu kala hiduplah seorang raja bersama putrinya yang bernama Putri Jelita di sebuah negeri yang bernama Negeri Impian dan seorang penyihir yang tinggal di sebuah hutan.
Pada suatu hari Putri Jelita berjalan-jalan ke hutan dengan para pengawal kerajaan dan mereka dihadang oleh sekawanan serigala. Para pengawal berusaha membunuh serigala, namun mereka semua tak kuasa mengalahkan serigala. Mendengar keributan di luar, sang putri keluar dari keretanya dan melihat apa yang terjadi. Begitu sang putri turun dari kereta, tiba-tiba ada yang memukul putri dari belakang. Ternyata yang memukul Putri Jelita adalah penyihir yang iri dengan kecantikan Putri Jelita. Penyihir itu langsung mengikat dan membawa Putri Jelita ke rumahnya.
“Sudah sadar rupanya,” kata penyihir.
“Si...si..apa Kau?” tanya Putri terbata-bata.
“Aku adalah penyihir yang akan membunuhmu tetapi tidak sekarang karena aku akan menggantikanmu pulang ke istana,” jawab sang penyihir.
Setelah berkata begitu, penyihir langsung mengubah dirinya menjadi Putri Jelita dan dia menyihir serigala menjadi para pengawal.
Sesampainya di istana, penyihir terkejut dan terpana akan kemegahan dan kemewahan istana Putri Jelita. Dia mulai keliling istana dan berhenti di taman istana. Saat dia memandangi dan menciumi semua bunga yang ada di taman, tiba-tiba pangeran dari negeri seberang menghampiri penyihir.
“Putri, akulah adalah teman lamamu dan sekaligus pangeran yang akan melamarmu. Maukah Kau menikah denganku?” kata sang pangeran.
“Teman lama?” kata penyihir agak terkejut.
“Iya. Apa Kau lupa, Putri?” tanya pangeran heran.
“Oh iya. Aku hanya bercanda kok,” kata penyihir ragu-ragu.
Mendengar nada suara penyihir, pangeran mulai ragu dan curiga. Oleh karena itu, pangeran langsung memerintahkan panglima kerajaan untuk menyelidiki Putri Jelita alias penyihir.
Keesokan harinya, panglima mulai menyelidiki dengan mengendap-endap ke kamar Putri Jelita dan mendengar suara dari dalam kamar.
“Hi....hi....hi, akhirnya aku mendapatkan apa yang Putri Jelita dapatkan. Istana mewah dan juga pangeran yang tampan.
Tanpa menunggu lama panglima langsung mendatangi pangeran untuk melaporkan apa yang didengar dari kamar Putri Jelita. Mendengar laporan itu, pangeran langsung mengajak panglima dan beberapa prajurit untuk mencari dan menemukan keberadaan Putri Jelita ke seluruh pelosok negeri. Selama dua hari mereka mencari namun tak menemukannya. Akhirnya pangeran memutuskan untuk mencari di hutan. Saat sampai di hutan, panglima langsung menunjuk sebuah rumah usang. Karena curiga dengan rumah usang itu, pangeran dan panglima beserta prajurit untuk mendatangi rumah itu. Saat masuk, pangeran terkejut karena ada seorang wanita yang terikat dan setelah didekati betapa terkejutnya sekaligus bahagia karena ternyata wanita itu adalah Putri Jelita. Pangeran langsung membawa Putri Jelita ke istananya.
“Di mana Aku?” tanya Putri Jelita.
“Tenanglah Putri. Putri ada di istana Pangeran,” kata pelayan.
“Lalu pangeran di mana?” tanya Putri lagi.
“Pangeran sedang membuat rencana untuk menangkap penyihir yang menyamar sebagai Putri Jelita di istana Putri,” jawab pelayan.
Di negeri Putri jelita, pangeran sedang melamar kembali Putri Jelita yang palsu dan akhirnya rencana pernikahan pun dibuat. Hari pernikahan pun tiba. Saat pangeran dan penyihir akan mengucapkan janji, tiba-tiba Putri Jelita asli datang dan langsung menghentikan pernikahan itu.
“Hentikan. Dia bukan Putri Jelita melainkan penyihir yang telah menjelma menjadi diriku,” teriak Putri Jelita.
“Si..si..apa Kau mengaku-aku Putri Jelita?” tanya penyihir gemetar.
“Pengawal, tangkap penyihir ini dan jebloskan ke dalam penjara!” perintah pangeran.

Read More......

Ikan Penghasil emas @ ANANTHATOYS

Ikan Penghasil emas
Oleh Felix/7a

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda bernama Joe. Joe adalah anak yang rajin tetapi tak ada yang menerima dia karena dia tidak menyelesaikan pendidikannya. Dia tinggal di sebuah rumah yang kumuh bersama ibunya yang sudah tua. Joe masih muda tetapi dia harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya.
Suatu hari, ibunya sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit dan itu membutuhkan biaya yang besar. Joe pun memutuskan untuk mencari pekerjaan untuk membiayai perawatan rumah sakit ibunya. Dia pergi melamar pekerjaan dari satu tempat ke tempat yang lain dan selalu ditolak. Akhirnya Joe pun memutuskan untuk menjadi penjual roti.
Pagi-pagi benar dia menjajakan dagangannya dari desa ke desa tapi tak ada yang membelinya. Hingga suatu hari, ada seorang kakek yang meminta-minta pada Joe.
”Nak, kasihani aku. Seharian ini aku belum makan,” kata kakek.
“Ini Kek. Semua untuk kakek karena seharian ini tak ada yang berminat pada roti yang saya jajakan,” kata Joe sambil memberikan semua rotinya.
“Baik sekali hatimu, Nak. Sebagai rasa terima kasihku, Kakek hanya bisa memberikan ikan peninggalan istri Kakek. Rawatlah baik-baik dan semoga bisa membuahkan hasil,” pesan kakek.
“Kakek tidak perlu repot-repot, saya ikhlas kok,” jawab Joe.
“Kakek juga ikhlas memberikan ikan ini kepadamu,” balas kakek.
Karena merasa kasihan pada kakek itu, Joe akhirnya menerima ikan itu dan membawanya pulang.
Sesampainya di rumah, Joe membuat kolam kecil di belakang rumahnya agar ikan itu bisa bergerak leluasa tidak seperti dalam toples pemberian kakek. Setelah selesai membuat kolam yang sudah diisi air, Joe langsung menceburkan ikan itu.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Joe merawat ikan itu dengan baik sehingga ikan itu menjadi besar dan anehnya dagangan roti Joe juga mulai laku seiring perkembangan ikan pemberian kakek. Joe sendiri merasa aneh demikian juga ibunya.
“Joe, tampaknya ikan itu memberi keberuntungan padamu,” kata ibunya.
“Iya Bu. Tapi uang yang terkumpul belum bisa membawa ibu ke rumah sakit hanya untuk membeli obat saja,” jawab Joe sedih.
“Sabar saja ya, Joe. Sekarang sebaiknya kamu tidur karena besok harus mengambil dagangan dan jualan,” kata ibu.
Joe meninggalkan ibunya dan tidak lupa dia selalu menengok ikannya sebelum dia tidur kemudian menceritakan setiap kejadian yang dialaminya termasuk kesedihannya belum bisa membawa ibunya ke rumah sakit.
Keesokan harinya sebelum Joe berjualan, ia ingin berpamitan pada ikannya.
“Aku mau berangkat dulu, ya. Semoga hari ini aku bisa lebih beruntung,” kata joe pada ikannya.
Alangkah terkejutnya Joe karena ikan itu tiba-tiba membuka mulutnya dan dari mulutnya itu tersembul butiran-butiran emas. Melihat itu, Joe langsung mengumpulkan butiran-butiran emas itu dan dibawa ke rumah saudagar kaya untuk menjual emas-emas itu. Joe pun mendapat banyak uang dan dia langsung membawanya ibunya ke rumah sakit sampai sembuh dan sebagian uangnya digunakan untuk membuka usaha toko roti.
Setelah kejadian yang dialami selama memelihara ikan itu, Joe ingin mencari kakek yang telah memberikan ikan itu namun ia tak pernah menemukannya. Akhirnya Joe memutuskan untuk memelihara ikan itu sampai mati. Akhirnya Joe dan ibunya hidup bahagia selama-lamanya.
Dari cerita di atas kita belajar bahwa kita harus memberikan apa yang kita punya kepada orang yang sangat membutuhkan dengan ikhlas walaupun kita sendiri kekurangan.

Tamat

Read More......

Bawang Merah & Bawang Putih @ ANANTHATOYS

Bawang Merah & Bawang Putih
Kisah dari Jawa Tengah.

Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan seorang gadis remaja yang cantik bernama bawang putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah bawang putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu bawang putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang putih sangat berduka demikian pula ayahnya.

Di desa itu tinggal pula seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak ibu Bawang putih meninggal, ibu Bawang merah sering berkunjung ke rumah Bawang putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya mengobrol. Akhirnya ayah Bawang putih berpikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikahi saja ibu Bawang merah supaya Bawang putih tidak kesepian lagi. Maka ayah Bawang putih kemudian menikah dengan ibu Bawang merah. Mulanya ibu Bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada Bawang putih. Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang putih dan memberinya pekerjaan berat jika ayah Bawang Putih sedang pergi berdagang. Bawang putih harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara Bawang merah dan ibunya hanya duduk-duduk saja. Tentu saja ayah Bawang putih tidak mengetahuinya, karena Bawang putih tidak pernah menceritakannya.

Suatu hari ayah Bawang putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Sejak saat itu Bawang merah dan ibunya semakin berkuasa dan semena-mena terhadap Bawang putih. Bawang putih hampir tidak pernah beristirahat. Dia sudah harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi dan sarapan bagi Bawang merah dan ibunya. Kemudian dia harus memberi makan ternak, menyirami kebun dan mencuci baju ke sungai. Lalu dia masih harus menyetrika, membereskan rumah, dan masih banyak pekerjaan lainnya. Namun Bawang putih selalu melakukan pekerjaannya dengan gembira, karena dia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri.

Pagi ini seperti biasa Bawang putih membawa bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya. Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang putih tidak menyadari bahwa salah satu baju telah hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu, baju ibu tirinya telah hanyut terlalu jauh. Bawang putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya, namun tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali ke rumah dan menceritakannya kepada ibunya.
“Dasar ceroboh!” bentak ibu tirinya. “Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus mencari baju itu! Dan jangan berani pulang ke rumah kalau kau belum menemukannya. Mengerti?”

Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibun tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci tadi. Matahari sudah mulai meninggi, namun Bawang putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya, dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai, siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah jauh melangkah dan matahari sudah condong ke barat, Bawang putih melihat seorang penggembala yang sedang memandikan kerbaunya. Maka Bawang putih bertanya: “Wahai paman yang baik, apakah paman melihat baju merah yang hanyut lewat sini? Karena saya harus menemukan dan membawanya pulang.”
“Ya tadi saya lihat nak. Kalau kamu mengejarnya cepat-cepat, mungkin kau bisa mengejarnya,” kata paman itu.
“Baiklah paman, terima kasih!” kata Bawang putih dan segera berlari kembali menyusuri tepi sungai.
Hari sudah mulai gelap, Bawang putih sudah mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba, dan Bawang putih. Dari kejauhan tampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk di tepi sungai. Bawang putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya.
“Permisi…!” kata Bawang putih. Seorang perempuan tua membuka pintu.
“Siapa kamu nak?” tanya nenek itu.
“Saya Bawang putih nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut. Dan sekarang kemalaman. Bolehkah saya tinggal di sini malam ini?” tanya Bawang putih.
“Boleh nak. Apakah baju yang kau cari berwarna merah?” tanya nenek.
“Ya nek. Apa…nenek menemukannya?” tanya Bawang putih.
“Ya. Tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku menyukai baju itu,” kata nenek. “Baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus menemaniku dulu disini selama seminggu. Sudah lama aku tidak mengobrol dengan siapapun, bagaimana?” pinta nenek.
Bawang putih berpikir sejenak. Nenek itu kelihatan kesepian. Bawang putih pun merasa iba.
“Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asal nenek tidak bosan saja denganku,” kata Bawang putih dengan tersenyum.



Selama seminggu Bawang putih tinggal dengan nenek tersebut. Setiap hari Bawang putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek itu merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu, nenek pun memanggil bawang putih.
“Nak, sudah seminggu kau tinggal di sini. Dan aku senang karena kau anak yang rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai janjiku kau boleh membawa baju ibumu pulang. Dan satu lagi, kau boleh memilih satu dari dua labu kuning ini sebagai hadiah!” kata nenek.
Mulanya Bawang putih menolak diberi hadiah tapi nenek tetap memaksanya. Akhirnya Bawang putih memilih labu yang paling kecil. “Saya takut tidak kuat membawa yang besar,” katanya. Nenek pun tersenyum dan mengantarkan Bawang putih hingga depan rumah.

Sesampainya di rumah, Bawang putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya sementara dia pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya. Alangkah terkejutnya bawang putih ketika labu itu terbelah, didalamnya ternyata berisi emas permata yang sangat banyak. Dia berteriak saking gembiranya dan memberitahukan hal ajaib ini ke ibu tirinya dan bawang merah yang dengan serakah langsun merebut emas dan permata tersebut. Mereka memaksa bawang putih untuk menceritakan bagaimana dia bisa mendapatkan hadiah tersebut. Bawang putih pun menceritakan dengan sejujurnya.

Mendengar cerita bawang putih, bawang merah dan ibunya berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini bawang merah yang akan melakukannya. Singkat kata akhirnya bawang merah sampai di rumah nenek tua di pinggir sungai tersebut. Seperti bawang putih, bawang merah pun diminta untuk menemaninya selama seminggu. Tidak seperti bawang putih yang rajin, selama seminggu itu bawang merah hanya bermalas-malasan. Kalaupun ada yang dikerjakan maka hasilnya tidak pernah bagus karena selalu dikerjakan dengan asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek itu membolehkan bawang merah untuk pergi. “Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena menemanimu selama seminggu?” tanya bawang merah. Nenek itu terpaksa menyuruh bawang merah memilih salah satu dari dua labu yang ditawarkan. Dengan cepat bawang merah mengambil labu yang besar dan tanpa mengucapkan terima kasih dia melenggang pergi.

Sesampainya di rumah bawang merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih akan meminta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai. Lalu dengan tidak sabar mereka membelah labu tersebut. Tapi ternyata bukan emas permata yang keluar dari labu tersebut, melainkan binatang-binatang berbisa seperti ular, kalajengking, dan lain-lain. Binatang-binatang itu langsung menyerang bawang merah dan ibunya hingga tewas. Itulah balasan bagi orang yang serakah.

(SELESAI)

Read More......

Cindelaras @ ANANTHATOYS

Cindelaras
Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri," pikirnya.

Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah. Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.

Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara. Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih. Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja menganggung puas ketika sang patih melapor kalau ia sudah membunuh permaisuri.

Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan. Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik sekali. Ia sengaja memberikan telur itu kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat. Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra..."

Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo, kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.

Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan Raden Putra menjadi milik Cindelaras.

Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku. Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang. Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri Baginda."

Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan meminta maaf atas kesalahannya Setelah itu, Raden Putra dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.. Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia, Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Read More......

Aladin dan Lampu Ajaib @ ANANTHATOYS

Aladin dan Lampu Ajaib
Dahulu kala, di kota Persia, seorang Ibu tinggal dengan anak laki-lakinya yang bernama Aladin. Suatu hari datanglah seorang laki-laki mendekati Aladin yang sedang bermain. Kemudian laki-laki itu mengakui Aladin sebagai keponakannya. Laki-laki itu mengajak Aladin pergi ke luar kota dengan seizin ibu Aladin untuk membantunya. Jalan yang ditempuh sangat jauh. Aladin mengeluh kecapaian kepada pamannya tetapi ia malah dibentak dan disuruh untuk mencari kayu bakar, kalau tidak mau Aladin akan dibunuhnya. Aladin akhirnya sadar bahwa laki-laki itu bukan pamannya melainkan seorang penyihir. Laki-laki penyihir itu kemudian menyalakan api dengan kayu bakar dan mulai mengucapkan mantera. "Kraak…" tiba-tiba tanah menjadi berlubang seperti gua.

Dalam lubang gua itu terdapat tangga sampai ke dasarnya. "Ayo turun! Ambilkan aku lampu antik di dasar gua itu", seru si penyihir. "Tidak, aku takut turun ke sana", jawab Aladin. Penyihir itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin dan memberikannya kepada Aladin. "Ini adalah cincin ajaib, cincin ini akan melindungimu", kata si penyihir. Akhirnya Aladin menuruni tangga itu dengan perasaan takut. Setelah sampai di dasar ia menemukan pohon-pohon berbuah permata. Setelah buah permata dan lampu yang ada di situ dibawanya, ia segera menaiki tangga kembali. Tetapi, pintu lubang sudah tertutup sebagian. "Cepat berikan lampunya !", seru penyihir. "Tidak ! Lampu ini akan kuberikan setelah aku keluar", jawab Aladin. Setelah berdebat, si penyihir menjadi tidak sabar dan akhirnya "Brak!" pintu lubang ditutup oleh si penyihir lalu meninggalkan Aladin terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk termenung. "Aku lapar, Aku ingin bertemu ibu, Tuhan, tolonglah aku !", ucap Aladin.

Aladin merapatkan kedua tangannya dan mengusap jari-jarinya. Tiba-tiba, sekelilingnya menjadi merah dan asap membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah peri cincin kata raksasa itu. "Oh, kalau begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku, kita akan segera pergi dari sini", ujar peri cincin. Dalam waktu singkat, Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya panggillah dengan menggosok cincin Tuan."

Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya. "Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu sambil menggosok membersihkan lampu itu. "Syut !" Tiba-tiba asap membumbung dan muncul seorang raksasa peri lampu. "Sebutkanlah perintah Nyonya", kata si peri lampu. Aladin yang sudah pernah mengalami hal seperti ini memberi perintah,"kami lapar, tolong siapkan makanan untuk kami". Dalam waktu singkat peri Lampu membawa makanan yang lezat-lezat kemudian menyuguhkannya. "Jika ada yang diinginkan lagi, panggil saja saya dengan menggosok lampu itu", kata si peri lampu.

Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa serta putriku".

Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan meminta peri lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di atas bukit. Tak lama kemudian peri lampu datang dengan Istana megah di punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.

Nun jauh disana, si penyihir ternyata melihat semua kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !". Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan memerintahkan peri lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke rumahnya.

Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut. Lalu memanggil peri cincin dan bertanya kepadanya apa yang telah terjadi. "Kalau begitu tolong kembalikan lagi semuanya kepadaku", seru Aladin. "Maaf Tuan, tenaga saya tidaklah sebesar peri lampu," ujar peri cincin. "Baik kalau begitu aku yang akan mengambilnya. Tolong Antarkan kau kesana", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk mencari kamar tempat sang Putri dikurung. "Penyihir itu sedang tidur karena kebanyakan minum bir", ujar sang Putri. "Baik, jangan kuatir aku akan mengambil kembali lampu ajaib itu, kita nanti akan menang", jawab Aladin.

Aladin mengendap mendekati penyihir yang sedang tidur. Ternyata lampu ajaib menyembul dari kantungnya. Aladin kemudian mengambilnya dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat ini", seru Aladin kepada peri lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang Aladin. Tetapi peri lampu langsung membanting penyihir itu hingga tewas. "Terima kasih peri lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali ke Persia". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan kesusahan.

Read More......

Anggrek Hitam Untuk Domia

Anggrek Hitam Untuk Domia
Gong dari rumah panjang menggelagar bertalu-talu. Penduduk kampung Tebelianmangkang sudah tahu. Jika gong ditabuh, berarti ada keadaan genting. Merekapun bergegas mendatangi rumah itu.

Rupanya, seorang wanita bernama Darahitam akan melahirkan bayi. Namun bayinya tak juga mau keluar. Darahitam sangat khawatir. Sebelumnya, sudah dua kali bayinya meninggal. Sambil kesakitan ia berdoa dan bernazar,

"Jubata, tolonglah agar anakku lahir dengan selamat. Lelaki atau perempuan, anak ini akan kupersembahkan menjadi pelayanmu!"

Jubata adalah dewa tertinggi suku Dayak. Jubata adalah perantara antara manusia dan Tuhan. Darahitam yakin Jubata akan menolongnya. Dan…

"Hoa, hoa, hoa …" suara tangis bayi memecah keheningan.

Seluruh penduduk desa menyambut gembira. "Ia lahir dengan selamat! Bayi yang cantik! Kulitnya bersih. Hidungnya mancung. Alisnya tebal. Bulu matanya lentik," seru para wanita.

Karena sangat cantik, bayi perempuan itu dinamakan Domia. Dalam bahasa Dayak, Domia berarti dewi.

Seperti ramalan banyak orang, Domia tumbuh menjadi gadis jelita. Banyak pria yang melamarnya. Namun Domia menolaknya. Sebab ia terikat nazar ibunya pada Jubata. Domia ditakdirkan menjadi pelayan Tuhan, atau imam wanita. Seorang imam tak boleh menikah. Tak seorang pun bisa membatalkan nazarnya. Kecuali Jubata sendiri yang mencabutnya.

Meskipun demikian, Domia jatuh cinta pada pemuda bernama Ikot Rinding. Pemuda itupun mencintai Domia. Namun Ikot Rinding heran. Karena Domia tak mau menikah dengannya.

Suatu hari yang panas, pergilah Ikot Rinding memancing. Namun, karena tak ada seekor ikanpun yang didapatnya, ia lalu pergi ke hulu sungai. Di tengah jalan, Ikot Rinding terhenti! Ia melihat Domia sedang mencuci pakaian. Pemuda itu langsung menghampiri gadis pujaan hatinya.

"Domia, mengapa kau tak mau menjadi istriku?" tanya Ikot Rinding.

Mendengar pertanyaan itu, Domia terkejut. Gadis cantik itu akhirnya berterus terang. Ia bercerita tentang nazar ibunya pada Jubata ketika melahirkannya. Betapa sedih hati Ikot Rinding mendengar cerita itu. Ia tahu, nazar pada Jubata hanya bisa dibatalkan oleh Jubata sendiri. Tapi… kemana ia harus mencari Jubata?

Karena cintanya pada Domia, Ikot Rinding pun mengembara. Siang berganti malam. Malam menjelang pagi. Setelah enam hari mengembara, sampailah ia di Bukit Sungkung. Ikot Rinding beristirahat dan tertidur pulas di bawah pohon rindang. Begitu bangun, hari sudah pagi. Berarti ini hari ketujuh pengembaraanya mencari Jubata.

Ketika akan melangkah pergi, Ikot Rinding terkejut. Ia melihat sebuah sumpit tergeletak di tanah. Di hutan belantara tak berpenghuni ini ada sumpit? Dari mana asalnya? Ikot Rinding segera memungutnya. Di hutan belantara seperti ini, sumpit tentu sangat berguna, pikirnya.

Ikot Rinding meneruskan pengembaraanya. Ketika melintasi sebongkah batu, ia tiba-tiba teringat pada nasihat ibunya. Ketika masih kecil, saat menemani ibunya menyikat pakaian di atas batu, ibunya selalu berkata, "Jangan sekali-kali mengambil barang orang lain tanpa izin!"

Seketika Ikot Rinding berbalik, meletakkan sumpit itu ke tempat semula. Sumpit itu bukan miliknya. Mungkin milik pemburu yang lewat di daerah itu.

Maka Ikot Rinding pun meneruskan perjalanannya mencari Jubata. Badannya lelah. Ia merasa lapar dan dahaga. Tapi begitu ingat akan Domia, ia menjadi bersemangat kembali. Tiba-tiba ia mendengar suara desisan. Sekelebat melintas seekor ular tedung. Ia berhenti di depan Ikot Rinding. Lidahnya kecil panjang bercabang. Badannya yang tadi melingkar, ditegakkan.

Ikot Rinding sadar ia harus waspada. Tangan kanannya kini meraih ranting. Diputar-putarnya ranting itu. Lalu dengan cepat tangan kirinya menyambar leher si ular tedung. Ular itu rupanya terpedaya oleh gerak tipunya. Dilemparnya ular tedung itu jauh ke tepi jurang.

Usai pertistiwa itu, terdengarlah langkah kaki. Rupanya ada orang yang menonton perkelahian Ikot Rinding melawan ular tedung. Semula Ikot Rinding curiga. Namun wajah pemuda itu tampak ramah.

"Aku Salampandai, putra bungsu raja hutan di sini," ujarnya. Salampandai bercerita, sudah dua hari ia berburu. Namun tak berhasil menangkap apapun. Ini gara-gara senjatanya hilang. Ia juga bercerita bahwa ayahnya menyuruhnya rajin berlatih menyumpit. Terutama menyumpit binatang liar yang bergerak cepat.

Sekarang Ikot Rinding tahu siapa pemilik sumpit yang ditemukannya tadi. Ia mengajak Salampandai ke tempat sumpit itu. Benda itu masih ada di sana.

Karena gembira, Salampandai mengundang Ikot Rinding bermalam di rumahnya. Ia ingin mengenalkan sahabat barunya kepada keluarganya. Bahkan, ia pun ingin menjadikan Ikot Rinding saudara angkat. Walau ia sudah mempunyai enam orang kakak.

Sejak itu, Ikot Rinding diizinkan tinggal di istana. Raja dan ratu sangat menyayanginya seperti anak kandung sendiri. Salam pandai dan Ikot Rinding-pun selalu bersama kemanapun mereka pergi.

Suatu hari, "Jaga Si Bungsu baik-baik," pesan Raja pada Ikot Rinding dan keenam putranya saat mereka akan pergi berburu. Ikot Rinding mengangguk. Tapi enam saudara kandung Salampandai tak menjawab. Mereka tidak menyukai Ikot Rinding. Mereka merasa Ratu dan Raja hanya memperhatikan Si Bungsu dan Ikot Rinding. Mereka lalu membuat rencana mencelakakan salah satu dari Ikot Rinding atau Si Bungsu.

Setibanya di hutan, mereka harus berpencar. Salampandai mendapat tempat yang agak mendaki. Dan Ikot Rinding ke tempat yang menurun. Keenam kakak Salampandai sengaja memisahkan mereka berdua. Namun ketika keenam orang itu sudah pergi, diam-diam Ikot Rinding membuntuti Salampandai. Ia tahu, keenam orang itu sengaja menyuruh Salampandai ke tempat yang berbahaya.

"Berhenti! Jangan lewat gua itu!" teriak Ikot Rinding pada Si Bungsu.

Ikot Rinding tahu, di gua itu hidup sekawanan kalong. Gigi dan cakar hewan-hewan itu sangat tajam. "Salampandai, tiarap!" teriak Ikot Rinding saat melihat gumpalan-gumpalan hitam keluar dari mulut gua. Tetapi terlambat. Si Bungsu kini dalam kepungan kelelawar.

Dengan tangkas, Ikot Rinding mencabut mandau. Ia menebas ke segala arah. Satu persatu binatang gua itu dikalahkannya. Kini tinggal raja kelelawar yang bertubuh besar. Kali ini Ikot Rinding menggunakan sumpitnya. "FUUHH!" Hanya dengan sekali tiupan, robohlah si raja kelelawar. Si Bungsu pun selamat.

Keduanya lalu pulang. Salampandai menceritakan peristiwa itu pada ayahnya. Raja sangat takjub mendengarkan cerita ketangkasan Ikot Rinding. Ia sangat bahagia karena putra kesayangannya selamat.

"Mintalah apa saja yang kau inginkan," ujarnya pada Ikot Rinding. "Hari ini juga akan segera kupenuhi."

Pada saat itu Ikot Rinding baru sadar. Ayah Salampandai ternyata adalah Jubata itu sendiri. Inilah saat yang diimpikan Ikot Rinding. Meski agak ragu, Ikot Rinding pun berkata, "Aku memohon bukan untuk diriku. Untuk orang lain. Sudilah kiranya Raja membebaskan Domia, dari nazar ibunya, Darahitam."

Jubata ingat. Tujuh belas tahun lalu, seorang ibu bernama Darahitam kesulitan bersalin. Karena putus asa, Darahitam bernazar. Dan kini Ikot Rinding meminta agar nazar itu dilepaskan. Jubata yang bijaksana mengerti. Berbuat baik jauh lebih penting daripada memegang teguh sebuah sumpah.

"Permohonanmu kukabulkan," ujarnya.

"Apakah tandanya?" tanya Ikot Rinding.

Melihat keraguan putra angkatnya, Raja masuk ke kamarnya. Begitu keluar, tangannya memegang setangkai anggrek hitam. Yang hanya tumbuh di halaman istana Jubata.

"Inilah tandanya," sabda Jubata. Anggrek itu lalu diserahkannya pada Ikot Rinding. "Begitu Domia menerima sendiri dari uluran tanganmu, bunga ini segera berubah warna. Itulah pertanda. Bahwa nazar ibunya telah kulepaskan."

Usai menerima anggrek hitam itu, Ikot Rinding bergegas meninggalkan istana. Ia telah sangat rindu pada Domia. Perjalanan panjang ditempuhnya tanpa rasa lelah. Tak terasa, tibalah ia di kampung Tebelianmangkang.

Anggrek hitam ia serahkan pada Domia. "Pejamkan matamu…" pinta Ikot Rinding. Tanpa banyak bertanya, Domia menurut. "Nazar ibumu akan dilepaskan Jubata. Sebagai tanda, anggrek hitam di genggamanmu akan berubah warna."

Ketika membuka kelopak matanya kembali, Domia melihat anggrek hitam telah berubah warna. Jadi butih bersih. Indah berseri bagai anggrek bulan. Domia telah terlepas dari nazar.
Sepasang kekasih itu tak hentinya mengucap syukur pada Jubata. Dan keduanya hidup bahagia sampai masa tua mereka.

Read More......

Gadis dan Pohon Bernyanyi

Gadis dan Pohon Bernyanyi
Di sebuah kota pelabuhan yang ramai tinggallah seorang anak perempuan yatim piatu. Gadis namanya. Ayah dan ibunya meninggal dunia ketika ia masih kecil. Sejak itu Gadis tinggal bersama bibinya. Namum bibinya sangat kasar kepadanya. Gadis amat sedih. Akan tetapi ia mencoba tabah dan sabar.

Gadis adalah anak yang rajin. Ia berusaha mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik. Salah satunya adalah mengambil air dari sumur. Letak sumur itu sangat jauh dari rumah. Untunglah di tengah jalan ada sebatang pohon tua yang besar dan rimbun. Gadis sering singgah di bawah pohon itu untuk melepas lelah.

Kadang-kadang, Gadis menangis sedih di bawah pohon itu. Ia merasa sendirian di dunia ini. Ia tak tahu harus mengadu kepada siapa. Diantara isak tangisnya, Gadis senantiasa berdoa agar Tuhan menjaga dan menolongnya. Anehnya, setiap kali ia menangis, pohon itu selalu mengembangkan ranting-rantingnya. Daun-daunnya bergerak dengan lembut dan berirama. Desiran halusnya bagaikan nyanyian merdu. Gadis selalu terpesona mendengarnya. Sehingga ia lupa akan kesedihannya. Bahkan sampai tertidur. Bila ia tertidur pohon itu menundukkan ranting-ranting daunnya. Supaya Gadis terlindung dari panas matahari. Jika Gadis terlalu lama tertidur, pohon itu akan menjatuhkan daun-daunnya ke pipinya yang halus. Gadis jadi terbangun karenannya.

Hari demi hari pun berlalu.. Raja akan membuat sebuah kapal pesiar. Pohon-pohon tua yang ada akan ditebang. Kayunya digunakan untuk membuat kapal. Gadis menjadi gelisah, ia cemas kalau pohon tuanya akan turut ditebang.

Siang itu, sepulang mengambil air dari sumur, Gadis singgah sejenak di bawah pohon tuanya. Ia melihat tanda silang putih pada batang pohon itu. Berarti pohon kesayangannya akan ditebang. Hati Gadis sedih sekali. Ia tidak bisa berkata-kata. Air matanya mengalir deras. Tanggannya memeluk pohon yang dikasihinya.

"Pohonku, mungkin hari ini adalah hari terakhir perjumpaan kita. Esok mereka akan menebangmu. Aku akan kehilangan satu-satunya teman yang kumiliki. Aku sedih sekali. Tapi aku tak dapat mencegahnya. Selamat jalan pohonku," isak Gadis.

Seperti hari-hari yang lalu pohon itu kembali menundukkan ranting-rantingnya dan daun-daunnya. Seolah-olah memeluk Gadis. Daunnya mengusap lembut pipi Gadis. Tak terdengar nyanyian dari pohon itu.

"Jangan sedih, anak manis. Kapal itu tak akan berlayar tanpa kehendakmu. Naiklah dan ikutlah berlayar bersamanya kelak. Maka kita akan bersama-sama lagi," bisik pohon itu menghibur hati Gadis.

Esok pagi pohon itu ditebang. Beberapa bulan kemudian selesailah kapal yang diinginkan Raja. Sebuah pesta meriah diadakan saat kapal itu akan berlayar untuk pertama kalinya. Namun ketika akan diluncurkan, kapal itu sedikitpun tak mau bergerak meninggalkan dermaga. Penduduk mencoba mendorongnya. Namun kapal itu tetap tak bergerak. Raja menjadi kecewa dan marah.

Berita mengenai kapal yang tak mau bergerak itu akhirnya terdengar oleh Gadis. Ia teringat pada pesan terakhir pohon tuanya. Dengan susah payah Gadis pergi ke pelabuhan kota. Dan berhasil menemui Raja. Ia minta izin agar boleh melayarkan kapal tersebut. Raja semula tak percaya. Tapi karena kapal itu tak mau bergerak, akhirnya Raja mengizinkan. Gadis pun bergegas naik ke atas kapal. Penuh rindu diusapnya anjungan kapal itu.

"Pohonku, tolonglah aku. Bergeraklah, berlayarlah .. Seluruh penduduk kota ini ingin menyaksikan engkau berlayar ke lautan lepas."

Semua orang berdebar menanti apa yang akan terjadi. Kapal itu bergerak sedikit demi sedikit. Lalu lepaslah ia dari sandarannya. Dengan tenang ia melaju ke laut. Penduduk kota bersorak gembira. Raja tak kurang pula gembira hatinya. Gadis dipeluknya.

"Bagaimana engaku bisa membuatkapal ini berlayar?" tanya Raja dengan takjub bercampur heran.

"Berkat rahmat Tuhan, Yang Mulia. Kebetulan kapal ini terbuat dari kayu pohon tua sahabat saya, " jawab Gadis dengan santun.

Kemudian Gadis menceritakan seluruh kisah hidupnya kepada Raja. Hati Raja tersentuh. Sejak itu Gadis tinggal di istana dan menjadi anak angkat Raja.

(SELESAI)

Read More......

Keong Mas @ monicatoys

Keong Mas
Raja Kertamarta adalah raja dari Kerajaan Daha. Raja mempunyai 2 orang putri, namanya Dewi Galuh dan Candra Kirana yang cantik dan baik. Candra kirana sudah ditunangkan oleh putra mahkota Kerajaan Kahuripan yaitu Raden Inu Kertapati yang baik dan bijaksana.

Tapi saudara kandung Candra Kirana yaitu Galuh Ajeng sangat iri pada Candra kirana, karena Galuh Ajeng menaruh hati pada Raden Inu kemudian Galuh Ajeng menemui nenek sihir untuk mengutuk candra kirana. Dia juga memfitnahnya sehingga candra kirana diusir dari Istana ketika candra kirana berjalan menyusuri pantai, nenek sihirpun muncul dan menyihirnya menjadi keong emas dan membuangnya kelaut. Tapi sihirnya akan hilang bila keong emas berjumpa dengan tunangannya.

Suatu hari seorang nenek sedang mencari ikan dengan jala, dan keong emas terangkut. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Besoknya nenek itu mencari ikan lagi dilaut tetapi tak seekorpun didapat. Tapi ketika ia sampai digubuknya ia kaget karena sudah tersedia masakan yang enak-enak. Sinenek bertanya-tanya siapa yang memgirim masakan ini.

Begitu pula hari-hari berikutnya sinenek menjalani kejadian serupa, keesokan paginya nenek pura-pura kelaut ia mengintip apa yang terjadi, ternyata keong emas berubah menjadi gadis cantik langsung memasak, kemudian nenek menegurnya " siapa gerangan kamu putri yang cantik ? " Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadaku " kata keong emas, kemudian candra kirana berubah kembali menjadi keong emas. Nenek itu tertegun melihatnya.

Sementara pangeran Inu Kertapati tak mau diam saja ketika tahu candra kirana menghilang. Iapun mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihirpun akhirnya tahu dan mengubah dirinya menjadi gagak untuk mencelakakan Raden Inu Kertapati. Raden Inu Kertapati Kaget sekali melihat burung gagak yang bisa berbicara dan mengetahui tujuannya. Ia menganggap burung gagak itu sakti dan menurutinya padahal raden Inu diberikan arah yang salah. Diperjalanan Raden Inu bertemu dengan seorang kakek yang sedang kelaparan, diberinya kakek itu makan. Ternyata kakek adalah orang sakti yang baik Ia menolong Raden Inu dari burung gagak itu.

Kakek itu memukul burung gagak dengan tongkatnya, dan burung itu menjadi asap. Akhirnya Raden Inu diberitahu dimana Candra Kirana berada, disuruhnya raden itu pergi kedesa dadapan. Setelah berjalan berhari-hari sampailah ia kedesa Dadapan Ia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya sudah habis. Tapi ternyata ia sangat terkejut, karena dari balik jendela ia melihatnya tunangannya sedang memasak. Akhirnya sihirnya pun hilang karena perjumpaan dengan Raden Inu. Tetapi pada saat itu muncul nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada nenek. Akhirnya Raden Inu memboyong tunangannya keistana, dan Candra Kirana menceritakan perbuatan Galuh Ajeng pada Baginda Kertamarta.

Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Galuh Ajeng mendapat hukuman yang setimpal. Karena takut Galuh Ajeng melarikan diri kehutan, kemudian ia terperosok dan jatuh kedalam jurang. Akhirnya pernikahan Candra kirana dan Raden Inu Kertapatipun berlangsung. Mereka memboyong nenek dadapan yang baik hati itu keistana dan mereka hidup bahagia.

(SELESAI)

Read More......

Tiga Orang Wanita Penenun

Tiga Orang Wanita Penenun
By Brothers Grimm

Dahulu kala ada seorang gadis yang sangat malas dan tidak pernah mau menenun kain, dan ibunya tidak pernah bisa membujuk gadis tersebut untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Akhirnya ibunya menjadi sangat marah dan kehilangan kesabaran dan mulai memukul anak gadisnya dengan keras. Pada saat itu Ratu yang kebetulan lewat, berhenti di depan rumah gadis tersebut karena mendengar gadis itu menangis. Ratu kemudian masuk ke dalam rumah dan bertanya apa yang terjadi pada gadis itu dan mengapa ibunya memukuli anak gadisnya sampai-sampai semua orang yang berada di jalan dapat mendengarkan gadis tersebut menangis.

Ibu gadis tersebut menjadi sangat malu untuk mengakui kemalasan anak gadisnya, sehingga dia berkata,

"Saya tidak bisa menghentikan dia menenun, dia selalu ingin mengerjakannya setiap waktu dan saya terlalu miskin sehingga tidak bisa menyediakan dia rami - bahan untuk ditenun yang cukup."

Kemudian Ratu menjawab,

"Saya sangat senang mendengar suara roda alat pemintal, dan saya merasa senang mendengarkan mereka bersenandung, biarkanlah saya membawa putrimu ke istana, saya mempunyai banyak rami dan bahan tenung, di sana dia dapat memintal dengan hati gembira."

Ibu gadis tersebut sangat senang mendengarkan tawaran itu, dan Ratu pun kemudian membawa gadis tersebut bersamanya. Ketika mereka mencapai istana, Ratu memperlihatkan tiga ruangan yang penuh dengan rami dan bahan tenun yang terbaik yang ada di kerajaannya.

"Sekarang kamu dapat menenun rami ini," Katanya, "dan bila kamu berhasil menyelesaikannya, kamu akan saya nikahkan dengan putra tertua saya; kamu mungkin miskin tapi saya tidak akan memperdulikan hal itu, kain yang kamu buat dari rami ini cukup sebagai emas kawin,"

Gadis itu ketakutan dalam hati, karena dia sama sekali tidak dapat menenun, biarpun dia hidup seratus tahun dan duduk menenun setiap hari selama hidupnya dari pagi sampai malam. Dan ketika dia berada sendirian dia mulai menangis, dan duduk selama tiga hari tanpa menyentuh alat tenun. Pada hari ketiga, Ratu datang, dan ketika dia melihat tidak ada satupun tenunan yang selesai, dia lalu terkejut; tetapi gadis tersebut beralasan bahwa dia belum bisa mulai menenun karena dia masih bersedih akibat perpisahan dengan rumah dan ibunya. Alasan itu membuat Ratu menjadi tenang, tetapi ketika Ratu akan beranjak pergi, dia mengatakan "Besok pekerjaan kamu harus dimulai."

Ketika gadis itu sendirian lagi, dia tidak dapat berbuat apa apa untuk menolong dirinya sendiri atau melakukan apapun yang sudah seharusnya dilakukan. Dalam kebingungannya dia cuma keluar dan menatap keluar jendela. Saat itu dilihatnya tiga orang wanita lewat didepannya, dan wanita yang pertama memiliki kaki yang lebar dan rata, yang kedua mempunyai bibir yang tergantung turun sampai ke dagunya, dan yang ketiga memiliki ibu jari tangan yang sangat lebar. Mereka kemudian berhenti di depan jendela, dan mencoba bertanya apa saja yang gadis itu inginkan. Gadis itu menjelaskan apa yang dibutuhkannya, dan mereka berjanji akan membantunya, dan berkata,

"Kamu harus mengundang kami ke pesta pernikahanmu, dan tidak malu karena kehadiran kami, menyebut kami sebagai sanak keluarga dan sepupumu, dan diperbolehkan duduk satu meja dengan kamu; jika kamu berjanji akan memenuhi hal ini, kami akan menyelesaikan tenunan tersebut dalam waktu singkat."

"Saya berjanji sepenuh hati," jawab si gadis; "masuklah dan mulailah sekarang."

Lalu ketiga wanita itu masuk, dan mereka membersihkan sedikit ruangan pada kamar pertama untuk mereka agar mereka dapat duduk dan menempatkan alat tenun mereka. Wanita yang pertama menarik keluar benang dan mulai menapakkan kakinya ke tuas yang memutar roda alat tenun, wanita yang kedua membasahi benang, dan wanita yang ketiga memilin dan meratakannya dengan ibu jarinya diatas meja, perlahan-lahan gulungan-gulungan benang yang indah berjatuhan diatas lantai, dan ini menghasilkan tenunan yang sangat indah. Gadis itu menyembunyikan ketiga wanita penenun itu dari pandangan mata sang Ratu sehingga setiap kali Ratu berkunjung, sang Ratu hanya melihat dia sendirian bersama tumpukan tenunan yang sangat indah; dan tidak terhingga pujian-pujian yang diterimanya dari Ratu. Ketika kamar pertama sudah kosong, mereka mulai menenun di kamar kedua, lalu ke kama ketiga sampai semua rami telah selesai di tenun. Lalu saat ketiga wanita penenun itu akan pergi, mereka berkata pada sang Gadis,

"Jangan lupa dengan apa yang kamu janjikan, dan semuanya akan menjadi lebih baik untuk kamu."

Ketika sang Gadis memperlihatkan pada Ratu ruangan yang telah kosong, dan sejumlah besar tenunan, Ratu langsung mengatur pernikahan gadis itu dengan putranya yang tertua, dan mempelai pria itupun sangat senang karena mendapatkan calon istri yang sangat pandai dan rajin.

"Saya mempunyai tiga orang sepupu," kata Gadis itu, "dan karena mereka sangat baik kepada saya, Saya tidak akan pernah lupa kepada mereka disaat saya mendapatkan keberuntungan; bisakah saya mengundang mereka datang ke pesta, dan meminta mereka duduk satu meja dengan kita?"

Ratu dan putra tertuanya yang akan menjadi calon suami berkata bersamaan,

"Kamu boleh mengundangnya datang, tidak ada alasan bagi kami untuk tidak mengundangnya kesini,"

Ketika perjamuan dimulai, ketiga wanita penenun tersebut datang tanpa menyembunyikan keburukan rupa mereka, dan sang Gadis berkata,

"Sepupuku yang baik, selamat datang."

"Oh," kata mempelai pria, "bagaimana kamu bisa mempunyai sanak keluarga yang sangat buruk rupa?"

Kemudian dia menemui wanita penenun yang pertama dan bertanya kepadanya,

"Bagaimana kamu bisa mempunyai kaki yang begitu lebar dan rata?"

"Saya selalu menapakkan kaki saya pada alat tenun," katanya.

Ketika dia menemui wanita yang kedua dan bertanya,

"Bagaimana kamu bisa mempunyai bibir yang bergantungan sampai ke dagumu?"

"Dengan menjilati benang." katanya,

Dan kemudian dia bertanya kepada wanita yang ketiga,

"Bagaimana kamu bisa mempunyai ibu jari yang sangat besar dan lebar?"

"Dengan memuntir dan memilin benang," katanya.

Kemudian mempelai pria berkata bahwa semenjak saat itu, sang gadis yang menjadi istrinya ini harus berhenti untuk menenun dan jangan pernah menyentuh alat tenun lagi.

Dan begitulah akhirnya sang gadis lepas dari pekerjaan menenun yang melelahkan.

(SELESAI)

Read More......

Cinderella @ monicatoys

Cinderella
Di sebuah kerajaan, ada seorang anak perempuan yang cantik dan baik hati. Ia tinggal bersama ibu dan kedua kakak tirinya, karena orangtuanya sudah meninggal dunia. Di rumah tersebut ia selalu disuruh mengerjakan seluruh perkerjaan rumah. Ia selalu dibentak dan hanya diberi makan satu kali sehari oleh ibu tirinya. Kakak-kakaknya yang jahat memanggilnya "Cinderela". Cinderela artinya gadis yang kotor dan penuh dengan debu. "Nama yang cocok buatmu !" kata mereka.

Setelah beberapa lama, pada suatu hari datang pengawal kerajaan yang menyebarkan surat undangan pesta dari Istana. "Asyik… kita akan pergi dan berdandan secantik-cantiknya. Kalau aku jadi putri raja, ibu pasti akan gembira", kata mereka. Hari yang dinanti tiba, kedua kakak tiri Cinderela mulai berdandan dengan gembira. Cinderela sangat sedih sebab ia tidak diperbolehkan ikut oleh kedua kakaknya ke pesta di Istana. "Baju pun kau tak punya, apa mau pergi ke pesta dengan baju sepert itu?", kata kakak Cinderela.

Setelah semua berangkat ke pesta, Cinderela kembali ke kamarnya. Ia menangis sekeras-kerasnya karena hatinya sangat kesal. "Aku tidak bisa pergi ke istana dengan baju kotor seperti ini, tapi aku ingin pergi.." Tidak berapa lama terdengar sebuah suara. "Cinderela, berhentilah menangis." Ketika Cinderela berbalik, ia melihat seorang peri. Peri tersenyum dengan ramah. "Cinderela bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal." Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. "Sim salabim!" sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang sais. Yang terakhir, Cinderela berubah menjadi Putri yang cantik, dengan memakai gaun yang sangat indah.

Karena gembiranya, Cinderela mulai menari berputar-putar dengan sepatu kacanya seperti kupu-kupu. Peri berkata,"Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng pukul dua belas malam berhenti. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam. "Ya Nek. Terimakasih," jawab Cinderela. Kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk, pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan kecantikan Cinderela. "Cantiknya putrid itu! Putri dari negara mana ya ?" Tanya mereka. Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. "Putri yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?" katanya. "Ya…," kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di situ tidak menyangka kalau putrid yang cantik itu adalah Cinderela.

Pangeran terus berdansa dengan Cinderela. "Orang seperti andalah yang saya idamkan selama ini," kata sang Pangeran. Karena bahagianya, Cinderela lupa akan waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. "Maaf Pangeran saya harus segera pulang..,". Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, sepatunya terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari. Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil sepatu itu. "Aku akan mencarimu," katanya bertekad dalam hati. Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh debu, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.

Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya para pengawal tiba di rumah Cinderela. "Kami mencari gadis yang kakinya cocok dengan sepatu kaca ini," kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat Cinderela. "Hai kamu, cobalah sepatu ini," katanya. Ibu tiri Cinderela menjadi marah," tidak akan cocok dengan anak ini!". Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok. "Ah! Andalah Putri itu," seru pengawal gembira. "Cinderela, selamat..," Cinderela menoleh ke belakang, peri sudah berdiri di belakangnya. "Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim!.," katanya.

Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang Putri yang memakai gaun pengantin. "Pengaruh sihir ini tidak akan hilang walau jam berdentang dua belas kali", kata sang peri. Cinderela diantar oleh tikus-tikus dan burung yang selama ini menjadi temannya. Sesampainya di Istana, Pangeran menyambutnya sambil tersenyum bahagia. Akhirnya Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia.

Read More......

Jhi Ge Phu dan Putri Naga

Jhi Ge Phu dan Putri Naga
Dongeng dari Cina.

Di sebuah daerah di tiongkok hiduplah seorang pemuda bernama Jhi Ge Phu bersama ayahnya yang sudah renta. Mereka adalah ahli tembikar dan mereka hidup dari hasil menjual tembikar buatannya.

Suatu hari di musim salju, Jhi Ge Phu dan ayahnya menuntun keledai mereka ke kota. Keledai mereka yang sudah tua terseok-seok membawa muatan tembikar yang akan mereka jual di kota. Jalanan sangat licin karena tertutup salju. Ayah Jhi Ge Phu khawatir keledai mereka akan terpeleset dan menjatuhkan tembikar-tembikar di punggungnya.

Saat melewati Yuin Nan, mereka harus menyebrangi sebuah sungai yang sudah membeku. Di tengah sungai keledai mereka terpeleset dan jatuh, membuat semua tembikar mereka pecah berkeping-keping. Ayah Jhi Ge Phu yang hendak membatu keledainya malah terpeleset juga. Malang baginya, kepalanya terantuk batu dengan sangat keras sehingga ia pun meninggal.

Jhi Ge Phu sangat sedih. Namun apa mau dikata, semua sudah suratan takdir. Maka dia pun menguburkan jenazah ayahnya di tepi sungai dan juga menguburkan keledainya di samping kuburan ayahnya. Kemudian dia melanjutkan perjalanannya.

Suatu hari dia tiba di pinggir laut. Saat dia sedang merenungi nasibnya, dia dikejutkan oleh suara rebut dan tangisan seorang gadis. Dilihatnya segerombolan pemuda berkuda berlari menuju ke arahnya. Salah seorang diantaranya membawa seorang gadis yang sedang meronta-ronta dan menangis. Jhi Ge Phu merasa yakin bahwa gadis itu pasti telah dibawa paksa oleh mereka. Maka segera dia menghadang mereka. Pemuda yang membawa gadis itu sangat marah, dia mengeluarkan cambuk dan melecutkannya ke arah Jhi Ge Phu. Untungnya Jhi Ge Phu sempat menghindar. Ia mencabut pedangnya dan menebas kaki depan kuda pemuda itu sehingga mereka jatuh tersungkur. Tanpa membuang waktu Jhi Ge Phu menyerang si pemuda yang kewalahan melawannya. Akhirnya gerombolan pemuda itu pun melarikan diri.

Gadis itu sangat berterima kasih dan mengenalkan dirinya sebagai putri Naga.
“Dimana rumahmu Nona, bagaimana kau bisa dibawa oleh pemuda berandalan itu?” tanya Jhi Ge Phu.
“Rumahku ada di dasar laut. Kebetulan tadi pagi aku ingin menikmati fajar di daratan. Lalu saat aku lengah, tiba-tiba mereka datang menculikku,” katanya.
“Wahai pemuda, kau telah menolongku. Sekarang kau ikutlah denganku untuk menemui orang tuaku. Mereka akan sangat senang bertemu denganmu,” pinta putri Naga.

Jhi Ge Phu sangat penasaran sehingga dia menyetujui ajakan putri Naga. Putri tersebut menyuruhnya memejamkan mata. Sedetik kemudian saat putri Naga menyuruhnya membuka mata, Jhi Ge Phu terpesona dengan pemandangan di depannya.

Dia kini berada di sebuah istana yang sangat megah dan indah. Di hadapannya berdiri dua makhluk yang seperti manusia tapi juga seperti naga, dikelilingi para pelayan dengan bentuk seperti ikan. Kedua naga itu memperkenalkan diri sebagai orang tua gadis yang ditolongnya. Mereka sangat berterima kasih atas pertolongan Jhi Ge Phu. Mereka menjamunya dengan berbagai hidangan yang lezat. Kemudia raja membawa Jhi Ge Phu ke sebuah ruangan yang dipenuhi emas dan permata.
“Sebagai tanda terima kasihku, kau boleh membawa emas permata ini sesukamu, pilihlah!” kata raja.

Jhi Ge Phu dengan halus menolaknya, dia katakan bahwa dia tidak menginginkan imbalan. Namun karena raja terus memaksanya, akhirnya dia meminta seekor anak ayam dan sebuah tongkat. Raja sangat terkejut dengan permintaan tersebut karena kedua benda itu adalah pusaka kerajaan yang orang luar tidak mengetahuinya.
“Anak muda dari mana kau tahu benda-benda pusaka itu?” tanya raja.
“Maaf paduka, tuan putrilah yang memberitahuku,” kata Jhi Ge Phu.

Raja dan ratu segera memahami bahwa anak mereka telah jatuh hati pada pemuda itu. Maka dengan berat hati mereka merelakan pusaka tersebut ke tangan Jhi Ge Phu. Setelah itu mereka mengantar Jhi Ge Phu ke permukaan dengan selamat. Jhi Ge Phu sebenarnya ingin berpamitan dengan putri naga namun sepertinya putri naga tidak mau menampakan diri.

Jhi Ge Phu lalu melanjutkan perjalanannya meski dia tidak tahu harus kemana. Berhari-hari dia berjalan tanpa makan dan minum, akhirnya dia pun pingsan kelelahan.
Saat membuka matanya, ternyata dia tidak berada di tanah tempat ia pingsan, namun di sebuah tempat tidur yang besar dan indah. Di hadapannya telah terhidang makanan dan minuman yang lezat. Karena lapar, Jhi Ge Phu menghabiskan hidangan itu dengan lahap.



“Rumah siapa ini,” tanya Jhi Ge Phu dalam hati.

Dia kemudian berkeliling di dalam rumah itu untuk mencari tahu pemiliknya. Anehnya tidak ada seorang pun di dalam rumah itu. Dia menemukan namanya tertempel di salah satu pintu rumah tersebut.
“Mungkin ada orang baik yang meminjamkan rumah ini untukku,” pikirnya. “Aku tidak boleh berdiam diri saja, aku harus bekerja keras!.”

Jhi Ge Phu memutuskan untuk berladang, maka dia segera membabat hutan dan menanaminya dengan sayuran dan buah-buahan.

Dia berangkat ke ladang segera setelah matahari menampakkan diri dan baru pulang saat matahari akan kembali ke peraduannya.

Setiap kali dia bangun tidur dan pulang kerja, Jhi Ge Phu selalu mendapati meja makannya telah dipenuhi hidangan. Demikian pula rumah yang ditinggalinya selalu rapi dan bersih. Padahal Jhi Ge Phu tidak pernah bertemu dengan orang lain di rumah itu.

Karena penasaran, Jhi Ge Phu memutuskan untuk mencari tahu jawabannya. Suatu hari seperti biasa, pagi-pagi dia berpura-pura pergi ke ladang. Padahal dia bersembunyi dan mengintip.

Tiba-tiba anak ayam yang dibawanya dari istana naga mengeluarkan asap dan BUZZ!! Anak ayam itu menghilang dan berdirilah seorang putri yang sangat cantik. Kini tahulah Jhi Ge Phu bahwa selama ini putri Naga selalu bersamanya. Jhi Ge Phu sangat gembira, dia pun menghampiri putri Naga yang tidak bisa berpura-pura lagi. Mereka memutuskan untuk menikah dan bekerja di ladang bersama-sama.

Suatu hari lewatlah seorang raja dan para pengikutnya. Mereka hendak pergi berburu. Raja sangat terpesona melihat keindahan rumah Jhi Ge Phu dan memutuskan untuk singgah. Raja semakin terpesona melihat bahwa Jhi Ge Phu memiliki istri yang sangat cantik. Timbul niat jahatnya untuk menjadikan putri Naga sebagai istrinya.

Maka ditantangnya Jhi Ge Phu untuk bertanding. Raja memutuskan untuk bertanding membabat hutan selama tiga hari. Jika Jhi Ge Phu berhasil, raja akan memberinya hadiah, namu jika gagal, maka Jhi Ge Phu harus menyerahkan istrinya kepada raja.

Jhi Ge Phu sangat sedih karena yakin tidak akan mampu memenuhi tantangan tersebut. Namun putri naga menyarankan untuk meminta tolong pada raja naga.
“Pintalah kapak rembulan pada ayahku!” katanya.

Dengan kapak rembulan di tangannya, Jhi Ge Phu dengan berani berdiri menentang raja. Dia memilih hutan di sebelah timur, sementara raja hutan di sebelah barat. Dengan sekuat tenaga Jhi Ge Phu melemparkan kapak rembulannya ke atas dan BLARR! Seberkas cahaya memancar dan dengan sekejap mata hutan di sebelah timur telah habis terbabat.

Raja sangat marah dan tidak mau mengakui kekalahannya. Dia menantang Jhi Ge Phu untuk menuai padi keesokan harinya. Sekali lagi Jhi Ge Phu meminta pertolongan raja naga yang lalu memberinya sebuah kotak emas berkepala merak.

Esoknya, puluhan pekerja raja bekerja keras menuai padi di ladang sebelah selatan. Jhi Ge Phu segera membuka kotak emasnya. Seberkas cahaya menyilaukan terpancar dari dalamnya dan lalu segera berubah menjadi jutaan ekor burung pemakan padi. Mereka mematuki padi di ladang sebelah utara sehingga dalam sekejap padi-padi itu habis. Raja sangat marah dengan kekalahannya. Dengan geram dia memerintahkan para prajuritnya untuk membawa putri naga dengan paksa.

Jhi Ge Phu berusaha melawan namun saying prajurit raja terlalu banyak sehingga ia kewalahan. Didengarnya putri naga berteriak-teriak ketika para prajurit membawanya.
“Ge Phu, Mantel Bulu Merak! Syair keberuntungan!” teriak putri.

Jhi Ge Phu dengan sedih melihat istri yang dicintainya dibawa pergi. Berhari-hari dia memikirkan arti ucapan istrinya. Tiba-tiba pikirannya terbuka dan dia mengerti bahwa dia harus membuat mantel dari bulu merak dan membawanya ke istana.

Dia segera mengumpulkan bulu merak. Setiap malam di bawah cahaya rembulan dia menyusun bulu-bulu merak dan merangkai syair keberuntungan. Lalu pada malam ke 49 selesailah sudah mantel bulu merak dan syairnya.

Dengan memakai mantel bulu merak tersebut, Jhi Ge Phu berangkat ke istana. Malam itu adalah malam tahun baru Lunar. Masyarakat kota sedang berpesta. Istana dihiasi lentera dan lampion. Kemeriahan pesta begitu terasa saat Jhi Ge Phu berdiri di pintu gerbang istana. Dia lalu menyanyikan syair keberuntungannya dengan lantang. Pakaiannya yang tidak biasa, menarik perhatian banyak orang. Mereka beramai-ramai menonton Jhi Ge Phu.

Raja yang tidak tahu bahwa orang tersebut adalah Jhi Ge Phu segera memerintahkan untuk membawanya ke dalam istana. Putri Naga segera tahu bahwa suaminya telah datang begitu mendengarnya menyanyikan syair keberuntungan. Dia bergegas masuk ke aula tempat Jhi Ge Phu berada dan dengan ceria menebarkan senyum padanya.

Raja gembira melihat putri berubah ceria. Pikirnya jika ia juga memakai mantel bulu merak, putri akan senang padanya. Tanpa pikir panjang raja merebut mantel itu dan memakainya.

Tapi putri naga menunjukan tampang tidak suka, katanya “sungguh tidak pantas seorang raja berpakaian seperti itu. Sangat tidak sopan. Ini akan membuat sial pada kerajaan. Raja seperti ini harusnya dikurung saja.”

Kata-kata sang putri menimbulkan keributan di istana. Beberapa prajurit dan pejabat berusaha menangkap raja dan sebagian lain melindunginya. Kesempatan ini dipakai oleh Jhi Ge Phu dan putri naga untuk melarikan diri. Mereka berlari kea rah laut. Di sana para prajurit istana naga telah menunggunya dan membawanya kembali ke istana naga. Di sanalah mereka hidup bahagia selamanya.

(SELESAI)

Read More......

Pangeran dan Permaisuri

Pangeran dan Permaisuri
Suatu ketika, terdapat sebuah kerajaan yang diperitah seorang raja yang bijaksana. Namanya Raja Henry. Raja Henry yang telah tua itu ingin segera turun takhta.

Raja Henry memiliki seorang anak bernama Pangeran Arthur. Putra mahkota itu baik hati, bertanggung jawab, serta bijaksana. Ia juga dekat dengan rakyat. Itu sebabnya ia sangat cocok untuk memerintah kerajaan itu. Tetapi sayangnya ia belum beristeri. Padahal salah satu syarat untuk menjadi raja di kerajaan itu, pangeran harus memiliki isteri.

Kesibukan di istana pun dimulai. Seluruh anggota kerajaan sibuk mencarikan wanita yang cocok untuk Pangeran. Tapi, tak satu pun wanita yang dapat membuat Pangeran Arthur jatuh cinta. Selalu saja ada kekurangannya di mata Pangeran Arthur.

Pada suatu hari, datanglah seorang pemuda pengembara. Ia datang ke kerajaan dan menemui Pangeran yang sedang melamun di taman istana.
"Selamat pagi Pangeran Arthur!" sapa sang pengembara.
"Selamat pagi. Siapakah kau?" tanya Pangeran Arthur.
"Aku pengembara biasa. Namaku Theo. Kudengar, Pangeran sedang bingung memilih calon isteri?" tanya Theo.
"Ya, aku bingung sekali. Semua wanita yang dikenalkan padaku, tidak ada yang menarik hati. Ada yang cantik, tapi berkulit hitam. Ada yang putih, tetapi bertubuh pendek. Ada yang bertubuh semampai, berwajah cantik, tetapi tidak bisa membaca. Aduuh!" keluh Pangeran dengan wajah bingung.

"Hmm, bagaimana kalau kuajak Pangeran berjalan-jalan sebentar. Siapa tahu di perjalanan nanti Pangeran bisa menemukan jalan keluar," ajak Theo sambil memandang wajah Pangeran yang tampak letih.
"Ooh, baiklah," jawab Pangeran sambil melangkah. Mereka berdua lalu berjalan-jalan ke luar istana.

Theo mengajak Pangeran ke daerah pantai. Disana mereka berbincang-bincang dengan seorang nelayan. Tak lama kemudian nelayan itu mengajak pangeran dan Theo ke rumahnya.

"Isteriku sedang memasak ikan bakar yang lezat. Pasti Pangeran menyukainya," ujar si nelayan.
Setibanya di rumah nelayan, terciumlah aroma ikan bakar yang sangat lezat. Mereka duduk di teras rumah nelayan itu. Tak lama kemudian keluarlah istri nelayan menghidangkan ikan bakar.

Istri nelayan itu bertubuh pendek. Ketika sang istri masuk ke dalam, Theo bertanya, "Wahai Nelayan! Mengapa engkau memilih istri yang bertubuh pendek?"

Nelayan itu tersenyum lalu menjawab, "Aku mencintainya. Lagipula, walau tubuhnya pendek, hatinya sangat baik. Ia pun pandai memasak."

Theo dan Pangeran Arthur mengangguk-angguk mengerti. Selesai makan, mereka berterima kasih dan melanjutkan perjalanan.
Kini Theo dan Pangeran Arthur sampai di rumah seorang petani. Disana mereka menumpang istirahat. Rumah Pak Tani sangat bersih.
Tak ada sedikit pun debu. Mereka beberapa saat bercakap dengan Pak Tani. Lalu keluarlah isteri Pak Tani menyuguhkan minuman dan kue-kue kecil. Bu Tani bertubuh sangat gemuk.

Pipinya tembam dan dagunya berlipat-lipat. Setelah Bu Tani pergi ke sawah, Theo pun bertanya, "Pak Tani yang baik hati. Mengapa kau memilih isteri yang gemuk?"

Pak Tani tersenyum dan menjawab dengan suara bangga, "Ia adalah wanita yang rajin. Lihatlah, rumahku bersih sekali bukan? Setiap hari ia membersihkannya dengan teliti. Lagipula, aku sangat mencintainya."

Pangeran dan Theo mengangguk-angguk mengerti. Mereka lalu pamit, dan berjalan pulang ke Istana. Setibanya di Istana, mereka bertemu seorang pelayan dan isterinya. Pelayan itu amat pendiam, sedangkan isterinya cerewet sekali. Theo kembali bertanya,

"Pelayan, mengapa kau mau beristerikan wanita secerewet dia?"
Pelayan menjawab sambil merangkul isterinya, "Walau cerewet, dia sangat memperhatikanku. Dan aku sangat mencintainya".

Theo dan Pangeran mengangguk-angguk mengerti. Lalu berjalan dan duduk di tepi kolam istana. Pangeran berkata pada Theo,
"Kini aku mengerti. Tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula dengan calon isteriku. Yang penting, aku mencintainya dan hatinya baik."

Theo menarik nafas lega. Ia lalu membuka rambutnya yang ternyata palsu. Rambut aslinya ternyata panjang dan keemasan. Ia juga membuka kumis dan jenggot palsunya. Kini di hadapan Pangeran ada seorang puteri yang cantik jelita. Puteri itu berkata,

"Pangeran, sebenarnya aku Puteri Rosa dari negeri tetangga. Ibunda Pangeran mengundangku ke sini. Dan menyuruhku melakukan semua hal tadi. Mungkin ibundamu ingin menyadarkanmu…"
Pangeran sangat terkejut tetapi kemudian berkata,
"Akhirnya aku dapat menemukan wanita yang cocok untuk menjadi isteriku". Mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanya.

(SELESAI)

Read More......
PRODUK TERBARU

BUKU KAIN: AYO BERHITUNG
Mengajak anak untuk melihat gambar-gambar lucu sambil belajar berhitung dan mengenal angka. Terbuat dari bahan kain TC dan tinta cetak water base yang aman dan tidak berbau menyengat. Dapat dicuci jika kotor. Untuk usia 6 bulan ke atas.
Harga Rp. 20.000

BUKU KAIN: TIRUKAN SUARAKU
Mengajak anak untuk melihat dan mengenal binatang sambil menirukan bagaimana suara/bunyinya. Terbuat dari bahan kain TC dan tinta cetak water base yang aman dan tidak berbau menyengat. Dapat dicuci jika kotor. Untuk usia 6 bulan ke atas.
Harga Rp. 20.000

CACTUS STACKING BALANCE
Mainan ini mengenalkan kepada anak konsep keseimbangan. Selain itu dapat melatih kemampuan klasifikasi serta merangsang kreativitas, imajinasi dan eksplorasi anak yang menjadi fondasi berpikir logis dan matematis. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak. Untuk anak 2-5 tahun.
Harga Rp. 40.000

ANGKA DIGITAL
Mainan ini digunakan untuk bermain sambil belajar membuat angka digital. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak. Untuk usia 2-5 tahun.
Harga Rp. 25.000

MENARA KUNCI
Mainan ini merangsang motorik halus dan melatih koordinasi mata dan tangan anak. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak. Untuk anak 2-5 tahun.
Harga Rp. 25.000

MY FIRST PUZZLE: CHICKEN
Mainan puzzle ini mengasah kesabaran anak dalam mencari pemecahan masalah. Untuk anak 2-4 tahun. Dibuat menggunakan bahan yang aman untuk anak-anak.
Harga Rp. 10.000



MY FIRST PUZZLE: TRAIN
Mainan puzzle ini mengasah kesabaran anak dalam mencari pemecahan masalah. Untuk anak 2-4 tahun. Dibuat menggunakan bahan yang aman untuk anak-anak.
Harga Rp. 10.000

SANGKAR GEOMETRI
Mainan ini melatih anak mengenal bentuk-bentuk dasar geometri dan mengembangkan keterampilan berpikir klasifikasi. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak. Untuk usia 2-4 tahun.
Harga Rp. 45.000

TANGRAM
Mainan kuno dari daratan China ini dapat dimainkan oleh segala usia dan masih sangat populer hingga saat ini. Dari hanya 7 buah bentuk seperti segitiga dan kotak dapat dibuat ratusan bahkan ribuan bentuk seperti bentuk binatang atau manusia. Dibuat menggunakan kayu yang dihaluskan sehingga aman untuk anak. Untuk semua umur.
Harga Rp. 20.000

MENJAHIT KUCING
Mainan ini dapat merangsang motorik halus anak. Cocok untuk usia 3 - 4 tahun. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak.
Harga Rp. 10.000

MENJAHIT JERAPAH
Mainan ini dapat merangsang motorik halus anak. Cocok untuk usia 3 - 4 tahun. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak.
Harga Rp. 10.000

MENJAHIT SAPI
Mainan ini dapat merangsang motorik halus anak. Cocok untuk usia 3 - 4 tahun. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak.
Harga Rp. 10.000

RONCE NATURAL
Mainan ini merangsang motorik halus dan melatih koordinasi mata dan tangan anak. Dibuat menggunakan kayu yang dihaluskan sehingga aman untuk anak. Untuk anak 2-5 tahun.
Harga Rp 50.000

MOBIL LUNCUR
Mainan ini merangsang motorik halus dan melatih imajinasi serta koordinasi mata-tangan anak. Dibuat menggunakan cat non toxic yang aman untuk anak-anak. Untuk anak 2-5 tahun.
Harga Rp 55.000